Catatan 2025: Geliat Militansi Media Pondok Jatim, Membuktikan NU Tidak Kekurangan Kader Berkualtas yang Ikhlas*

Wajarnya, libur akhir tahun bagi santri digunakan untuk bertamasya ke objek wisata, tapi tidak ada ratusan insan santri Media di Jatim ini. Berangkat dari ujung timur Banyuwangi, hingga ujung barat Pacitan mereka berkumpul di Ponpes Al-Kamal Jember dalam rangka Multaqo Media Pondok Jatim (MPJ) selama tiga hari 19-21 Desember.

Nama mereka nampaknya asing di peredaran telinga kita, namun karya-karyanya begitu nyata kita nikmati bersama. Mereka adalah Admin, Kreator Konten, Editor, Desain Grafis dan Broadcaster akun-akun resmi Pondok Pesantren di Jawa Timur.

Mereka berkumpul tanpa kepentingan, tanpa desain politik dan bersih dari orkestrasi penguasa tertentu. Yang membuat salut adalah keinginan untuk hadir, bersosialisasi antar santri dan berkarya murni swadaya. Berangkat pun bayar sendiri dengan uang pendaftaran 200 K, belum lagi ongkos yang tifdak sedikit.

Antara peserta, pengurus dan pembina MPJ benaran Egaliter, jauh dari hubungan patron dan klien. Jadi tidak ada ‘Sosok Tunggal’ di MPJ Ini yang di agungkan, yang di ‘Guskan’ apalagi di ‘Ning-kan’, semua sama niat Khidmah via Konten Untuk Pesantren. Jadi tidak ada yang berani mau main-main atau memanfaatkan MPJ sebagai kendaraan politik atau kepentingan tertentu.

Padahal, apabila dihitung dari sisi kuantitas, Santri yang berkecimpung di Media ini memiliki perangkat yang lengkap untuk dijadikan gerbong kepntingan tertentu. Bagaiman tidak, mereka memegang akun yang pengikutnya puluhan Ribu, menguasai Skill ber-Media di atas rata-rata, dan jaringan yang minimal tersebar se Jatim, bargaining positionnya teramat seksi di mata penguasa tertentu. Namun selama lima tahun berdiri, MPJ tetap berdikari tanpa meminta dukungan dari politikus.

Selain bersilaturahmi dan bertukar pengalaman, selama di Pondok Al-Kamal ini Khodim MPJ (sebutan untuk anggota) juga mendapat asupan ilmu dari pemateri yang dihadirkan, dimalam pertama Ning Khilma Anis, Novelis degan magnum opus-nya berupa Hati Suhita itu memberikan materi tentang literasi. Kemudian mendapatkan pembelajaran berharga seputar fotografi dan sinematografi dari Nasion Patriotik di hari ketiga, menyusul sore harinya Gus Hans, Pengasuh Ponpes Darul Ulum Peterongan memberikan wacana ILMIAH seputar Media Peantren.

Peserta Putra Multaqo MPJ 2025 di Ponpes Al-Qodiri 1 Jember.

Malam puncak acara ini memberikan pengumaman terhadap pemenang lomba yang diselenggarakan panitia satu bulan sebelumnya. Meliputi lomba artikel ilmiah, film pendek dan fotografi. Bisa dikatakan insan Media santri ini selain menjalin hubungan secara sosial, mereka juga bertukar karya dan ilmu dari berbagai Media Pesantren untuk kemudian diterapkan di Pesantrennya masing-masing. Acara ditutup dengan pengukuhan sekaligus pelantikan Pengurus MPJ 2025-2027, yang menobatkan Saudara Edhi Nur Prasetyo dari Media Pondok Bustanul Mutaalimin Blitar sebagai Ketua MPJ setelah terpilih melalui mekanisme Ahwa, menggantikan saudara Zaniul yang telah demisioner.

Khodim MPJ meneguhkan dirinya sebagai Khodim militan, itu terbukti karena organisasi di MPJ benar-benar berorientasi pada khidmah yang jauh dari untung dan rugi. Multaqo hanyalah acara penutup, setelah sebelumnya Khodim MPJ sudah menyelenggarakan pelatihan Media di pondok pesantren se-Jatim. MPJ bergerak secara masif yang patut diapresiasi karena motorik utamanya adalah santri dengan kreatifitas dan keuletanya sendiri dalam menjalankan roda organisasi. Bukan digerakkan oleh ketokohan Kiai maupun Gus, tidak didukung oleh dana CSR dari perusahaan apalagi sponsor pemerintah, bahkan tidak meminta dari struktural NU sendiri.

Peserta Putri Multaqo MPJ 2025 di Ponpes Al-Kamal Jember

Eksistensi MPJ ini memberikan catatan yang tak terelakkan pada jam’iyah Nahdlatul Ulama’, bahwa di sektor struktural tidak kehabisan kader berkualitas yang berkhidmat dengan ikhlas. Tentu menjadi petunjuk yang jelas bahwa Pemuda Nahdlatul Ulama di Sektor akar rumput bisa bergelut dan menjalankan massa sedemikian banyaknya serta ngopeni kreatifitas santri meskipun tanpa konsesi yang ‘seksi’ dari Pemertintah maupun unsur Aghniya’ lainnya. Sekian, salam Militan.

*elnahrowi, Khodim MPJ dari Ponpes Al-Mahrusiyah Lirboyo

 

 

Begini Hasil Diskusi dan Koordinasi MPJ Malang Raya

Malang, Senin (12/12) Bertempat di Loteng Coffe and Eateryy – Wajak, Media Pondok Jatim (MPJ) Regional Malang Raya mengadakan kegiatan “Ngopi Media Pondok Malang Raya”. Kegiatan tersebut berisi pembahasan MPJ Fest dan evaluasi dari tiap divisi MPJ Regional Malang itu sendiri. Kegiatan dimulai dari pukul 16.00 WIB sampai dengan 21.30 WIB.

Fuad Hasyim perwakilan dari Pondok Mansyaul Ulum memulai jalannya rapat diikuti oleh peserta yang hadir dari Pondok Modern Al-Rifaie 2, Pondok Asy-Syadzili 1, Pondok Sabilurrosyad Gasek, Pondok Raudlotul Ulum 1, Pondok An-Nur 2, Pondok Al-Hikam dan Pondok Shirothul Fuqoha’ sepanjang.

Hasil diskusi itu diantaranya :

  • Div. Pesantren akan bekerja sama dengan RMI NU untuk memuat data pesantren yang ada di Malang.
  • Div. Event akan Membuat kelas Tarbiyah Film setelah MPJ Fest dan MMPJ, apalagi banyak film yang diikutkan lomba di Puncak FMPJ. Hal itu akan menjadi sesuatu output pendukung Melakukan sosialisasi di tiap-tiap pesantren nantinya.
  • Div. Ebis  akan menyediakan broadcast live streaming kepada pesantren yang membutuhkan di area regional Malang.

Selain itu juga membahas agenda External kedepan mengenai Halaqoh Media (MPJ Fest). Mulai dari koordinasi pemberangkatan secara rombongan juga Teknis Pemberangkatannya. Semoga dengan diadakan kegiatan “Ngopi Media Pondok Malang Raya” ini dapat merealisasikan seluruh tujuan sebagaimana yang diinginkan.